|
HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA - HONGARIA
A.
POLITIK
Indonesia dan Hongaria
menjalin hubungan diplomatik pada tanggal 26 Juni 1955 yang
dilanjutkan penempatan Duta Besar kedua negara pada 13 Nopember
1959 yang berkedudukan di Praha, Cekoslovakia.
KBRI Budapest dibuka pada tahun 1962.
Sampai tahun 1965 hubungan kedua negara berkembang dengan
pesat, namun mengalami penurunan setelah terjadinya peristiwa
G-30-S/PKI di Indonesia.
Usaha-usaha penataan kembali hubungan bilateral dimulai dengan
kunjungan Menlu R.I. Adam Malik ke Hongaria pada tahun 1974.
Peningkatan hubungan baik
kedua negara ditandai dengan kunjungan Presiden Soeharto ke
Hongaria pada tahun 1985 dalam rangka membalas kunjungan
Presiden Hongaria Pal Losonczi ke Indonesia pada tahun 1984.
Pada bulan September 1994 Presiden Arpad Goncz berkunjung
ke Indonesia dan Presiden Megawati Soekarnoputri mengadakan
kunjungan balasan ke Hongaria pada bulan 8-10 September 2002.
Pada tanggal 23-26 Juli 2005 PM Ferenc Gyurcsany
berkunjung ke Indonesia yang merupakan kunjungan pertama kali
seorang PM Hongaria ke Indonesia selama 4 dasawarsa terakhir.
Aktivitas hubungan kedua
negara selama lima tahun terakhir juga ditandai dengan kunjungan
kunjungan tidak resmi delegasi wakil Ketua DPR RI Hari Sabarno (Juli
1999), misi perdagangan RI yang dipimpin oleh Memperdag Yusuf
Kalla (Maret 2000), Studi banding delegasi MPR ke Hongaria
(April 2000), kunjungan Menteri Pertanian Hongaria Dr. Jozsef
Torgyan ke Indonesia (Juni 2000), kunjungan delegasi DPR-RI yang
dipimpin oleh Wakil Ketua DPR-RI Drs. A. Muhaimin Iskandar ke
Hongaria bulan September 2000, kunjungan Menristek Hatta Rajasa
ke Budapest bulan
September 2003, kunjungan Menteri Informatika & Komunikasi
Hongaria Kalman Kovacs (Januari 2004), kunjungan Administrative State Secretary Kemlu Hongaria Andras Hajdu (Februari
2004) dan Political State
Secretary Kemlu Hongaria Andras Barsonyi ke Indonesia (Juni
2004), kunjungan Menristek Kusmayanto Kadiman ke Budapest (Januari
2005), kunjungan Menteri Ekonomi & Perdagangan Janos Koka ke
Jakarta pada bulan Maret 2005
dan kunjungan Menlu Hassan Wirajuda ke Budapest pada
bulan Oktober 2005.
B.
EKONOMI
Neraca perdagangan Indonesia Hongaria selama
sepuluh tahun terakhir ini terus menunjukkan selisih positif
bagi Indonesia. Hal ini disebabkan oleh pola investasi
perdagangan Hongaria yang belum menjadikan Indonesia sebagai
target pasar ekspor Hongaria, mengingat bahwa tujuan dan pola
investasi di Hongaria diarahkan untuk mengisi pasar Uni Eropa.
Sementara itu produk ekspor Indonesia yang umumnya barang
manufaktur ringan merupakan produk alternative bagi masyarakat
Hongaria yang saat ini terus mengalami peningkatan daya beli.
Neraca Perdagangan Hongaria – Indonesia
(Juta USD)
|
Tahun
|
Ekspor
|
Impor
|
Saldo
|
Volume
|
|
2003
|
16,14
|
106,92
|
-90,78
|
123,06
|
|
2004
|
11,21
|
115,16
|
-103,95
|
126,37
|
|
2005
|
15,72
|
109,33
|
-93,61
|
125,05
|
Sumber : Kantor Pusat Statistik Hongaria
Pada tahun 2005,
nilai ekspor Indonesia ke Hongaria sebesar EUR 93,61 juta, dan
nilai impornya dari Hongaria sebesar EUR 15,72 juta.
Selama 5 tahun terakhir ekspor Indonesia ke Hongaria
menunjukkan peningkatan yang konsisten. Sampai saat ini produk
ekspor Indonesia sudah sejalan dengan kebutuhan impor Hongaria.
Jenis dan ragam produk ekspor Indonesia dapat diterima dengan
baik oleh industri dan konsumen Hongaria dan jenis komoditinya
perlu didiversifikasikan lebih lanjut.
Perlu
ditingkatkan peran
pengusaha Indonesia dan partisipasi aktif dalam pameran-pameran
tahunan yang diselenggarakan di Hongaria, serta penyebarluasan
informasi bisnis dan perdagangan melalui KADIN Indonesia dan
asosiasi-asosiasi terkait seperti berperan serta secara teratur
dalam : “Budapest International Autumn Fair” (consumer goods)
yang diadakan setiap bulan September dan “Industria” (capital
goods) yang diselenggarakan setiap bulan Mei serta “Travel Fair”
(Utazas) yang diselenggarakan setiap bulan Maret.
1.
Peluang yang ada a.l. Hongaria mempunyai letak strategis
dan berada di tengah dan jalan lintas negara-negara Eropa Timur
dan Tengah ke Eropa Barat.
2.
Masih sedikit kontribusi Indonesia dan perlu diversifikasi
komoditi ekspor Indonesia ke Hongaria dan negara-negara
sekitarnya. Sistim
barter dalam hal ini dapat diterapkan dengan Hongaria.
3.
Rasa saling percaya dan keinginan berdagang antara
perusahaan-perusahaan kedua negara masih harus ditingkatkan.
4.
Sedangkan hambatan-hambatan yang ada a.l.
jarak dan lamanya freight serta pembuatan barang dan
sistem pemesanan masih menjadi hambatan dimana di Hongaria/Eropa
musim berganti-ganti..
5.
Kedua pihak pada dasarnya ingin saling menjual barang.
6.
Masih belum adanya kerjasama “bonded ware-house” atau
“free trade zone” (kawasan berikat) di Hongaria yang menampung
produk-produk Indonesia.
7.
Perlu diadakan realisasi atau pengaturan perbankan/kerjasama
bank-bank khususnya kerjasama bilateral antar bank.
C. PENERANGAN DAN
SOSIAL-BUDAYA
Kerjasama di bidang pers dan
media massa bilateral masih dapat dikembangkan karena kedua
negara telah memiliki dasar-dasar perjanjian kerjasama yang
ditandatangani pada tahun 1959.
Namun sejauh ini belum nampak adanya kontak-kontak resmi
dalam hubungan antara kantor berita ataupun dari organisasi
wartawan kedua negara. Volume kunjungan timbal balik wartawan
kedua negara juga belum terlalu banyak. Banyak wartawan Hongaria
yang secara tidak resmi
berkunjung ke Indonesia sebagai wisatawan, dan tulisan-tulisan
yang muncul di pers Hongaria umumnya lebih ditekankan pada
hal-hal yang bersifat wisata dan budaya.
Dalam bidang pendidikan, upaya
peningkatan kembali hubungan kerjasama mulai dirintis oleh Pemri
sejak 14 tahun lalu dengan pemberian program Dharmasiswa untuk
belajar bahasa, seni dan budaya selama 8 bulan di Indonesia bagi
pelajar Hongaria.
Program Dharmasiswa ini mendapat tanggapan besar dari mahasiswa
Hongaria yang jumlah pelamarnya terus meningkat dari tahun ke
tahun.
Sejak tahun 1994/1995 jumlah eks peserta program
Darmasiswa dari Hongaria hingga saat ini telah mencapai 123
orang.
Secara resiprokal, Pemerintah
Hongaria sejak tahun 2006 ini telah memberikan kesempatan bagi
warga negara Indonesia untuk mengikuti beasiswa pendidikan di
bidang arts dan
science pada jenjang
undergraduate courses (5-10 bulan),
post graduate courses (3-21 hari atau 1-10 bulan),
doctoral studies (36 bulan),
partial doctoral studies (12 bulan),
post-doctoral studies (1-10 bulan),
senior tutor atau researches (3-21 hari atau 1-10 bulan),
dan summer courses
(2-4 minggu) di
lembaga pendidikan tinggi di Hongaria.
Pemerintah Hongaria selama ini
juga telah membuka kesempatan luas apabila ada mahasiswa
Indonesia yang ingin belajar di Hongaria dengan biaya sendiri
atau kerjasama antara lembaga-lembaga pendidikan kedua negara
seperti apa yang dilakukan oleh Universitas Kedokteran Semelweis
dengan RS Hassan Sadikin Bandung untuk berlatih di Hongaria
selama 3 bulan bagi dokter-dokter muda Indonesia.
Disamping itu
Central European University, Budapest memberikan beasiswa
kepada beberapa mahasiswa Indonesia untuk mengambil gelar S2,
disamping undangan untuk ikut
summer course bagi para dosen dan sarjana Indonesia di
Universitas yang setiap tahunnya sekitar 10 orang.
Untuk memperbaiki citra
Indonesia dan mempromosikan budaya di Hongaria, Perwakilan R.I.
terus berusaha menampilkan berbagai kesenian tradisional
Indonesia dalam berbagai festival dan acara seni di Hongaria,
termasuk penampilan musik gamelan, tari-tarian dan pameran seni
budaya Indonesia.
KBRI juga membuka kursus gratis untuk belajar musik gamelan atau
tari-tarian Indonesia. Dalam penyelenggaraan tersebut KBRI
mengadakan kerjasama dengan beberapa mantan peserta program
beasiswa Darmasiswa. KBRI Budapest memiliki asset budaya yang
cukup besar dengan kualitas yang memadai dan pantas tampil di
skala internasional yaitu 5 kelompok gamelan dan tari, yaitu
kelompok Gamelan Bali (Wirama Jaya), kelompok gamelan Jawa (Tropong
Bang), kelompok gamelan Sunda (Satria Sunda), kelompok Tari
Nusantara, kelompok Tari Bidadari.
Di Hongaria telah terbentuk
asosiasi persahabat Indonesia – Hongaria dengan nama
Hungarian – Indonesian Culture Association (IMKE) yang
dipimpin oleh Peter Bezi, mantan peserta beasiswa Darmasiswa
pemilik Bali Gallery di Budapest.
|